{"id":120,"date":"2020-02-07T13:42:55","date_gmt":"2020-02-07T13:42:55","guid":{"rendered":"http:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/?page_id=120"},"modified":"2020-02-10T04:07:15","modified_gmt":"2020-02-10T04:07:15","slug":"sejarah","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/sejarah\/","title":{"rendered":"SEJARAH"},"content":{"rendered":"\n<p>KRONOLOGIS BERDIRINYA SMK TUNAS BANGSA (TB) DAN SMP PATRIOT BANGSA (PB)<br>\n NGAMPRAH KAB. BANDUNG BARAT<\/p>\n\n\n\n<ol style=\"text-align:justify\"><li>Awal mula saya menginjakkan kaki di Jakarta untuk mengadu nasib adalah tahun 1978 di Kampung Dukuh dekat Taman Mini Indonesia Indah ikut kakak kedua saya dari 10 (sepuluh)  bersaudara yaitu Mbak Lik (Lilik Mujayanah).<\/li><li>Mula-mula saya pernah daftar TNI-AU, semua tes saya lalui dengan lancar, namun panggilan pendidikan tak kunjung datang. Ternyata setelah sekian tahun kemudian, tepatnya setelah saya jadi TNI-AD di Pusdikpal, baru terucap oleh kakak ipar saya, Gusman (Choiruman) yang menyatakan bahwa saya dulu saat tes TNI-AU sebenarnya lulus, hanya karena kakak saya ditanya oleh panitia bisa atau tidak menyiapkan dana Rp. 25.000,- untuk kelanjutan saya, maka Gusman katakan saat ini tidak punya uang.<\/li><li>Gagal masuk TNI-AU, saya menganggur, sambil kerja sebagai kuli bangunan di Kampung Dukuh ikut proyek membangun SMAN di dekat Halim Perdana Kusuma, melamar ke TMII, dan kerja bangunan lanjut sampai dengan ke Pondok Gede, di PT. Wisma Kusuma Indah, ke proyek perumahan Jati Waringin dan ke Pondok Ranggon (ujung aspal) membangun gedung PLN saat itu. Sambil kerja bangunan, saya daftar TNI-AD dan lulus, masuk pendidikan bulan Desember tahun 1978 dan selesai bulan April 1979 dan ditempatkan di Pusdikpal TNI-AD di Cimahi. Sambil dinas tentara saya juga sekolah di STM Pusdikpal dan tamat tahun 1983. Setelah itu melanjutkan kuliah di STKIP Pasundan Cimahi dan tamat bulan Mei 1988. Saat kuliah pada semester 5 (lima) tepatnya tanggal 7 April 1985 saya menikah dengan Yeane Thania Febriane dan tanggal 5 Februari 1986 lahir putra pertama saya Pratikto IJPP, tanggal 28 Mei 1987 lahir putri kedua saya Wisdyana SPWP, tanggal 11 Agustus 1991 lahir putri ketiga saya Trimurti WPP, dan tanggal 22 Mei 1993 lahir putri keempat saya Siti Nuraini ARP.<\/li><li>Sejak awal saya jadi anggota TNI-AD hingga mengakhiri dinas tentara karena kehidupan sosial ekonomi sangat memprihatinkan. Maklum pangkat di kemiliteran saya dari pangkat yang terendah yaitu prada dan terakhir kopral satu. Dalam sejarah kelahiran anak-anak saya adalah anak pertama dan kedua ketika  saya masih jadi TNI-AD dan anak saya yang ketiga dan keempat ketika saya sudah jadi PNS guru.<\/li><li>Setelah saya mengakhiri dinas sebagai anggota TNI-AD di Pusdikpal Tahun 1990 tepatnya bulan Maret dan mutasi sebagai PNS guru, kebetulan ditempatkan di STM Pusdikpal Cimahi, saya mulai berpikir bagaimana saya harus sukses di dunia pendidikan ini.<\/li><li>Sebenarnya saya memulai dinas militer ini dengan ijazah ST jurusan bangunan gedung tahun 1976 dengan predikat sebagai juara umum ketika itu di Jember Jawa Timur, namun saya tidak dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi karena faktor biaya. Mengingat saya sudah menjadi anak yatim ketika berumur 8 tahun dan saya anak dari keluarga kurang mampu setelah ibu saya sering sakit. Sementara saya 10 bersaudara dan saya anak ke-8, yang artinya kehidupan masa lalu saya betul-betul pahit.<\/li><li>Demikian dari itu saya merantau ke Jakarta tahun 1978, bermula menjadi kuli bangunan di daerah kampung Dukuh, sekitar Taman Mini Indonesia Indah, dan pada bulan Desember tahun 1978 itu saya masuk TNI-AD setelah pendidikan 4 bulan tepatnya April tahun 1979, saya ditempatkan di Pusdikpal Cimahi.<\/li><li>Di Pusdikpal cimahi inilah saya mulai meniti karier yang sebenarnya, karena selain dinas sebagai TNI-AD, saya juga sekolah di STM Pusdikpal tahun 1980-1983 mengambil jurusan Teknik Mesin. Tahun 1983-1988 saya melanjutkan kuliah di STKIP Pasundan mengambil jurusan PKN. Lalu tahun 1988 itu juga saya mulai mengajar di STM Pusdikpal Cimahi, dan dipercaya sebagai WKS Kesiswaan, oleh Kepala Sekolah saat itu Letkol Usoep sampai dengan proses mutasi tahun 1990 bulan Maret dari TNI-AD ke PNS.<\/li><li>Dalam perjalanan sebagai WKS Kesiswaan dan guru PKN di STM Pusdikpal Cimahi, saya juga mengajar di SMEA Sangkuriang Cimahi. Lagi-lagi tahun 1996 saya dipercaya sebagai koordinator PSB, yangmana sebelum saya menjadi koordinator PSB, STM Pusdikpal belum pernah mendidik siswa satu angkatan melebihi 300 orang siswa. Tetapi syukur Alhamdulillah pada tahun 1996 tersebut setelah saya berjuang dengan tekun bersama-sama team PSB dapat 512 siswa hanya dalam waktu 2 minggu. Ini bisa dibuktikan dengan data di STM Pusdikpal Cimahi melalui kohor yang ada atau administrasi yang ada disana, dan saya perintis berdirinya jurusan otomotif di STM Pusdikpal Cimahi bersama Drs. Endang Hasan. Pada tahun 1991 untuk mengurus di lapangan saat itu saya dibekali transport Rp. 45.000,- setara dengan harga beras 15 kg atau harga 2 buah kaos oblong.<\/li><li>Pasca saya menjalankan tugas koordinator PSB di tahun 1996 itu, berhasil sukses besar dalam PSB nya, namun berakhir pahit dalam kesejahteraannya. Hal ini terjadi karena ketidakberesan wakil Kep.Sek Kapten Puji Chaerudin dan Kep.Sek Mayor Untung Purnomo saat itu, dimana laporan pertanggungjawaban yang saya buat seharusnya ada sisa dana OPS PSB Rp. 17.000.000,-, namun yang diakui oleh Kep.Sek dan wakil Kep.Sek hanya Rp. 2.250.000,-. Mulai dari situ saya telusuri, baik pada Ketua Yayasan, saat itu Letkol Purnawirawan Sukadi, termasuk pada Komandan Pusdikpal saat itu Kolonel Heru Gunaidi juga kepada Ketua Koperasi Pusdikpal saat itu Lettu Safarudin, ternyata apa-apa yang disampaikan oleh Kep.Sek dan wakilnya tentang aliran uang pada beliau-beliau itu bohong besar. Dengan demikian, itu terjadi konflik antara saya dengan Kep.Sek dan wakilnya, maka bagi saya dari pada saya didzolimi seperti itu lebih baik saya mundur dari STM Pusdikpal Cimahi (pindah ke sekolah lain). Ini pertama saya didzolimi orang setelah saya jadi guru, dimana dia makan uang PSB tetapi tidak mengakui sehingga saya dan rekan-rekan panitia yang lain gigit jari.<\/li><li>Konflik saya dengan kep.Sek dan wakilnya menjadi heboh di STM Pusdikpal Cimahi dan mendorong saya untuk berniat mutasi dari STM Pusdikpal ke SMAN 1 Cimahi, saat itu tahun 1996-1997. Upaya saya itu pun diganjal, dengan upaya Kep.Sek STM Pusdikpal yang namanya Untung Purnomo itu memberikan masukan-masukan yang seolah-olah saya tidak baik pada Kep.Sek SMAN 1 Cimahi, saat itu dijabat oleh Ibu-ibu, padahal sebelumnya saya sudah diterima di SMAN 1 Cimahi hari Rabu. Tetapi hari Jumat setelah Kep.Sek STM Pusdikpal datang ke SMAN 1 Cimahi, lantas hari Senin berikutnya ketika saya datang ke SMAN 1 Cimahi, ditolak dengan alasan gurunya sudah banyak. Tidak cukup disitu saya didzolimi oleh Untung Purnomo dan Puji Chaerudin wakilnya, sampai ke Disdik Kab. Bandung di Baleendah saat itu Kep.Sek didampingi oleh 2 orang guru STM Pusdikpal yang kurang senang dengan saya yakni Drs. Endang Hasan, mantan guru saya sendiri dan Drs. Ali Armen, orang Padang itu memfitnah saya, bahwa seolah-olah saya telah korupsi Rp. 8.000.000,- dalam kasus PSB di STM Pusdikpal, dan lebih buruk lagi kalau bisa saya dipindahkan saja ke tempat yang jauh dari Kab. Bandung (Cimahi). Informasi ini saya dapat dari pihak Disdik Kab. Bandung saat itu.<\/li><li>Fitnah itu kejam. Sepertinya mereka itu sakit hati setelah kasus PSB saat itu saya telusuri kemana aliran uang yang ada, ternyata semua bohong. Klimaks dari semua iru, saya mencoba untuk cari jalan keluar, yang penting saya bisa  pindah dari STM Pusdikpal Cimahi dengan cepat, tanpa ada kesan-kesan yang negatif bagi teman-teman dan staf TU nya. Biarlah kalau dengan Kep.Sek dan wakilnya sudah terlanjur bermusuhan.<\/li><li>Saya mulai mencari pejabat penting di Propinsi. Ketika saya bertemu Bapak Drs. Maryono jabatannya Kabid (Kepala Bidang Dikmenum) yang menangani pendidikan kejuruan STM, dll saat itu Drs. Bambang Sutrisno. Dan hasil diskusi itu saya disarankan untuk ke SMAN 1 Cipatat. Kalau mau menjadi Kep.Sek negeri, peluang sangat besar. Atau ke SMPN 2 Ngamprah, lebih pasti untuk jadi Kep.Sek, bahkan berkas-berkas sudah saya urus sampai selesai. Namun tiba-tiba saya berpikir sepertinya kurang pas jika pindah dari STM ke SMA\/SMP, lalu saya  mencari pemilik gedung SMA Dharma Bhakti yang sudah bangkrut di Cimahi saat itu.<\/li><li>Upaya saya mencari pemilik gedung SMA Dharma Bhakti berhasil, yaitu Letkol Purn. KAV Sutarjo di Jl. SMPN 1 Cimahi. Dari hasil berdiskusi berkali-kali itu, dengan tanpa berdiskusi dengan putra-putranya, saya hanya berdiskusi dengan Ibu Hj dan Pak H. Sutarjo saja. Lantas mulai buka STM Taruna Mandiri dengan bersusah payah perjuangannya mengingat baik modal dan lain-lain ini tantangan pertama saya untuk mendirikan sekolah. Saya mulai merencanakan, seragamnya bagaimana, atributnya seperti apa, semua saya desain sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk promosinya ke 63 SMPN\/S, saya sendiri tidak dengan orang lain. Nama Taruna Mandiri, mula-mulanya saya ciptakan nama STM Taruna Bangsa, tetapi usul Pak H. Sutarjo bagaimana kalau namana Taruna Mandiri saja. Saya sih setuju-setuju saja, yang penting tidak ada Dharma Bhaktinya.<\/li><li>Perjuangan saya pertama ini berjalan lancar dan bersyukur tahun pertama 1997 itu saya dapat siswa 415 siswa, untuk jurusan teknik mesin, teknik otomotif dan teknik listrik arus kuat. Mula-mula ada beberapa kelas, 3 bulan belajar duduk di lantai karena belum punya meja kursi mengingat bekas SMA Dharma Bhakti sudah hancur. Dalam operasionalnya, manajemen keuangannya tidak saya kelola sendiri tetapi langsung oleh Ibu Hj. Sutarjo dengan utusannya dari yayasan untuk belanja bahan-bahan praktek dan lain-lain, semua oleh yayasan.<\/li><li>Namun setelah masuk tahun kedua yaitu tahun 1998, anaknya Pak H. Sutarjo sudah mulai banyak turut campur antara lain seragamnya mau diganti, baik warna maupun bentuknya, adalagi bayar SPP mau lewat bank, dll dan dari hal-hal yang tidak masuk akal ini saya mulai risih (tidak nyaman). Berkali-kali saya rapat dengn segenap guru dan staf termasuk dengan yayasan, rupanya saya juga harus segera mengambil sikap untuk mundur. Pihak yayasan berusaha untuk menahan saya agar tetap di STM Taruna Mandiri, antara lain datang ke Disdik Propinsi dan ke rumah Kabid Dikmenti Drs. Bambang, termasuk memanggil saya langsung untuk bernego. Tetapi bagi saya berprinsip kalau sudah meludah, pantang untuk dijilat lagi. Itu.<\/li><li>Saya buat surat pengunduran diri bulan Mei tahun 1999 dan didukung oleh 99 % guru dan TU 54 orang saat itu. Selain itu, saya diminta membuat kronologisnya, mengapa saya mundur dari STM Taruna Mandiri, padahal saya sendiri pendirinya. Sebelum resmi saya meninggalkan STM Taruna Mandiri, saya adakan rapat akbar yang dihadiri oleh seluruh siswa, disaksikan dari petugas Kodim Cimahi dan polres Cibabat di lapangan upacara. Saat itu saya utarakan semua kronologisnya sampai akhirnya saya tetap meninggalkan STM Taruna Mandiri Cimahi tahun 1999, tepatnya saat PSB tahun 1999.<\/li><li>Seperti semula sikap saya tidak mau putus asa. Setelah bulan Mei 1999 saya mengajukan surat pengunduran diri, saya langsung bekerjasama dengan Pak Partun, pemilik SMEA Sangkuriang Cimahi, dan dari hasil diskusi dan kesepakatan, saya dipinjami kelas-kelas yang tidak dipakai, yang tadinya untuk SMK Pariwisata, tetapi tidak laku. Dari situ tepatnya saat PSB tahun 1999 saya sudah memulai penerimaan siswa baru di gedung serbaguna SMEA Sangkuriang Cimahi dapat 1 minggu, ketika itu hari Jumat, siswa STM Taruna Mandiri demo ke propinsi agar saya bisa kembali ke STM Taruna Mandiri (rujuk dengan yayasan). Maka sikap dari Disdik propinsi memfasilitasi antara saya dengan yayasan, tapi saya tetap tidak mau kembali ke STM Taruna Mandiri lagi. Di hari Jumat itu,, maka datanglah pejabat Disdik Kab. Bandung Drs. Barnas Resmana mengultimatum saya dengan kata-kata jika saya tetap buka pendaftaran di SMEA Sangkuriang maka saya dikenakan sanksi PP 30. Memang selama proses PSB 1 minggu itu hampir semua siswa STM Taruna Mandiri selalu main di tempat PSB saya, dan tidak mau lagi ke kampus STM Taruna Mandiri. Selain itu upaya pihak-pihak STM Taruna Mandiri untuk mengganjal saya buka sekolah di Jl. Sangkuriang itu sangat jelas dengan menggunakan kekuatan materi dan memanfaatkan pejabat Disdik Kab. Bandung saat itu Drs. Barnas Resmana dan kroni-kroninya untuk menekan Pak Partun agar membatalkan kerjasamanya dengan saya. Hal itu terbukti setelah 1 minggu PSB berjalan dengan tiba-tiba Pak Partun membatalkan kesepakatan kerjasama dengan saya dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Pokoknya saya tidak boleh lagi menerima siswa baru di gedung serbaguna SMEA Sangkuriang, saya harus pindah kemana saja.<\/li><li>Hal ini saya terima bagaikan petir di siang bolong. Betapa malunya saya dengan orangtua calon siswa yang sudah daftar, dll. Padahal semua perizinan sudah saya tempuh dan sah, tinggal tanda tangan Drs. Barnas Resmana itu. Tidak mungkin beliau mau tanda tangan apalagi ybs sudah menerima sesuatu dari pihak STM Taruna Mandiri. Indikasinya kuat. Insya Allah benar bahwa pejabat Disdik Kab. Bandung saat itu terima suap dari STM Taruna Mandiri, dan saya yakin jika disumpah, ybs pasti tidak mau. Peristiwa ini saya catat sebagai pendzoliman saya kedua setelah jadi guru.<\/li><li>Dari kegagalan ini saya mencoba cari jalan keluar lagi, baik posisi saya sebagai PNS harus kemana dan saya harus berbuat apa. Sementara PSB tahun 1999 batal siswanya. Saya kasihkan pada STM Tut Wuri Cimahi, dan saya jadi guru DPK di STM Pusdikhubad Cimahi, sambil cari jalan keluar bagaimana melanjutkan cita-cita merintis sekolah yang sudah vakum itu.<\/li><li>Dari informasi Pak Endang Anjar, S.Pd, saya dihubungkan dengan Pak Drs. Undang Junaedi, Kepsek SMK 6 Kota Bandung di Cibiru sana tahun 1999. Dari hasil diskusi itu saya disarankan untuk mencari lokasi yang luasnya 3.000 m2 untuk berdirinya suatu sekolah dan diberi waktu sampai dengan Desember tahun 1999. Saya coba hubungi beberapa rekan-rekan guru yang pernah mengajar di STM Taruna Mandiri untuk bergabung (patungan beli tanah) 3.000 m2, semua yang saya hubungi tidak punya uang, sedangkan saya memiliki 1 buah mobil jip feroza tahun \u201894 dan mobil jemput sekolah, 1 rumah di cangkorah serta semua perhiasan keluarga saya jual saat itu, baru dapat dibelikan tanah 1.120 m2 di Jl. Hj.Gofur No. 162<\/li><li>Pada bulan Desember tahun 1999 itu saya sampaikan pada Pak Drs. Undang Junaedi, bahwa saya tidak bisa menyiapkan tanah 3.000 m2 . Kesimpulannya, rencana kerjasama batal dengan Pak Drs. Undang Junaedi tersebut. Dari situ saya vakum sebentar untuk introspeksi diri, saya harus bagaimana lagi. Setelah berhenti sejenak, saya bangkit lagi mencari lokasi sekolah, mulai dari pusdikint, Pusdikang, gereja di Jl. Gatsu Cimahi, gedung tua di dekat makam padasuka, bekas pabrik di gadobangkong, dll. Semuanya belum berhasil, dan suatu ketika Pak Endang Anjar, Pak Hamzah, Pak Dadang mempertemukan saya dengan Pak Ir. Roni Purwoko menantu Pak Kabul Karyana Pemilik bekas pabrik pakan ternak di dekat pom bensin Gadobangkong. Dari hasil diskusi-diskusi itu akhirnya SMK Tunas Bangsa dirintis di tempat ini, dan ternyata yang namanya Pak Kabul Karyono itu kakaknya Mas Baharudin (kakak ipar saya sendiri).<\/li><li>Setelah tempat sudah ada, saya laporkan ke Disdik Kab. Bandung. Dari Disdik tersebut dicek setelah itu disarankan nama sekolahnya jangan STM Taruna Bangsa, tapi STM Tunas Bangsa saja, \u2026 Pak Undang Junaedi yang pernah mau kerjasama dengan saya di tahun 1999 juga mendirikan STM Taruna Bangsa di Katapang Kab. Bandung\u2026.berkas-berkas saya di Pak Undang Junaedi ada, mulai dari pengurusan izin, dll. Apakah itu yang digunakan apa bukan, hanya Allah yang tahu.<\/li><li>Untuk memulai operasi sekolah ini tahun 2001, saya tidak sendirian, tetapi mencoba untuk membentuk kepengurusan harian yayasan dengan SK Ketua Yayasan (istri saya sendiri) dengan SK tersebut. Ada 6 orang terlibat didalamnya yaitu :<br>\na)    Ir. Roni Purwoko<br>\nb)    Umi<br>\nc)    Drs. Puryanto<br>\nd)    Drs. Yosep H.<br>\ne)    Drs. Budi Raharjo<br>\nf)    Endang Anjar, S.Pd<br>\nDan ada lagi Pak Hamzah + Dadang sebagai penghubung <\/li><li>Dari sekian orang, 4 orang, iuran untuk membuat meja kursi dan \u2026kelas-kelas, dll. Itu bisa dilihat pada pendirian sekolah berapa\u2026. dan untuk apa, cukup jelas.<\/li><li>Tahun pertama 2001 PSB dapat siswa 44 orang, tentu dalam operasionalnya sangat berat sekali sehingga untuk menutupinya, ya gaji saya sebagai PNS lah yang dapat diandalkan dan untuk rekan-rekan yang lain 3 memang tidak mau tau, dan memang kondisinya yang tidak memungkinkan untuk membantu lagi operasionalnya, walaupun sering dirapatkan, saya pun memaklumi kondisi ini. Di tahun kedua pun dalam PSB tidak jauh berbeda dapat 46 siswa. Kondisi pihak yang punya tempat merasa sekolah tidak dapat memberikan kesejahteraan. Jangankan kesejahteraan untuk para pengurus harian yayasan, untuk operasional, honor guru dan staf saja masih repot.<\/li><li>Di tahun kedua, pihak pemilik tempat, Ir. Roni mengajak teman-teman berinvest untuk memajukan bisnis kulit coklat dengan pembagian keuntungan yang dijanjikan dengan baik, namun rekan-rekan tidak bisa. Memang pada kesepakatan awal tempat tersebut hanya untuk sekolah, bukan untuk bisnis kulit coklat, namun kenyataannya, tempat tersebut ya untuk sekolah ya untuk numpuk dan ngoplos bubuk kulit coklat juga, sehingga proses belajar sangat-sangat terganggu sekali, sangat tidak layak lagi. Walaupun demikian karena tidak ada pilihan lain, dan saya takut diusir mendadak sekolahnya, maka saya tawarkan SK saya dapat dipinjam sebagai jaminan ke bank untuk menambah modal bisnisnya pemilik tempat, karena SK PNS saya masih di BRI, Dayeuh Kolot, maka Ir. Roni nebus dulu Rp. 4.000.000,-, baru dianggunkan lagi ke bank Jabar Cimahi untuk kredit Rp. 25.000.000,- dengan masa angsuran 60 x Rp. 730.000,- tiap bulannya. Celakanya Ir. Roni hanya dapat mengangsur 9 bulan (9 kali dari 60 kali perjanjian dengan bank). Selebihnya saya harus menelan pil pahit selama 51 bulan ( 51 kali) gaji PNS saya dipotong oleh bank (Rp. 730.000,-\/bulan), sehingga kondisi rumah tangga saya sangat terganggu sekali. Untuk operasional sekali saja sudah berat, ditambah lagi Ir. Roni sudah tidak lagi bertanggung jawab atas cicilan ke bank Jabar Cimahi. Belum lagi uang PSB tahun ketiga (tahun 2003) melalui Ibu Ida dipinjam juga Rp. 4.000.000,-. Semakin rumit urusannya, ditambah lagi Pak Kabul sering minta agar PBB nya dibayar oleh sekolah, yang nominalnya saat itu Rp. 12.000.000 an. Semakin rumit urusannya.<\/li><li>Pada tahun 2003 itu Pak kabul akan menjual tempat tersebut dan bicara dengan saya langsung bagaimana baiknya. Karena tempat tersebut akan dijual, sedang sekolah masih berlangsung, itupun semakin rumit lagi. Semua itu saya pikul sendiri, siapa lagi yang mau menolong, sekolah dalam keadaan sulit. Rekan-rekan yang lainpun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semuanya bagaimana saya.<\/li><li>Dalam keadaan yang demikian saya minta bantuan pada Pak Drs. Bambang Sutrisno untuk dibantu RKB dari Propinsi. Jabatan Pak Bambang ini memang strategis. Semuanya saya ceritakan apa adanya. Pada akhirnya saya dapat bantuan RKB 1 ruang dengan nilai Rp. 40.000.000,-. Lantas uang tersebut saya manfaatkan untuk dibangun di tanah saya pribadi tersebut seluas 1.120 m2 seperti yang sudah saya jelaskan di depan dari mana saya beli tanah itu dananya, dll. Dalam proses pembangunan tersebut, tidak mungkin uang Rp. 40.000.000,- itu jadi 2 atau 3 ruang kelas. Maka dari penjualan rumah saya di Pakusarakan hasil dari\u2026. (PNS dan menjual 1 buah rumah kecil di Pakusarakan menghasilkan Rp. 35.000.000,-, dapat saya bangunkan 3 ruang kelas dan 1 ruang kantor, walaupun belum sempurna).<\/li><li>Tepatnya bulan Oktober tahun 2003 kondisi di tempat yang lama sudha kritis, berbagai masalah. Maka sekolah saya relokasi ke Jl. Hj.Gofur No. 162 (tempat yang baru itu). Karena tempat ini masih dikitari sawah dan menjorok kedalam, maka jumlah siswa pun menyusut drastis, sampai-sampai untuk 2 (dua) jurusan hanya 26 siswa saja. Berarti untuk 1 jurusan hanya 13 orang saja. Kondisi ini pun saya sampaikan pada rekan-rekan yang lain, tapi kembali lagi saya memakluminya. Mungkin saat itu rekan-rekan pesimis sekolah akan maju. Belum lagi tahun ketiga itu menghadapi ujian akhir, ya UN ya Uji Kompetensi, dll. Disini saya benar-benar diuji ketabahan oleh Allah SWT.<\/li><li>Dalam kondisi yang sulit seperti itu, saya kumpulkan rekan-rekan yang lain : Pak Drs. Budi R., Pak Drs. Yosep H. Dan Pak Endang A., S.Pd bagaimana jalan keluarnya. Lagi-lagi mereka yang pasrah. Lantas saya tawarkan bahwa pengelolaan STM Tunas Bangsa akan saya serahkan pada pengelola yang baru jika sudah ada yayasannya dan rekan-rekan saya sarankan untuk membentuk yayasan yang baru, bahkan nama yayasan pun sudah tercipta yaitu Yayasan Panca Widya Bangsa. Namun setelah saya beri waktu 1 tahun, yayasan itupun tidak kunjung berdiri, padahal spanduk dan brosur untuk PSB tahun itu sudah tertulis nama yayasan yang baru. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, maka kepengurusan harian yayasan pendidikan yang pernah di SK kan waktu awal beroperasinya sekolah, dibubarkan dengan SK Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa dengan alasan :<br>\na)    Kepengurusan harian yayasan sudah tidak mampu lagi memperjuangkan\/ atau melanjutkan operasional sekolah dengan baik<br>\nb)    Waktu 1 tahun yang diberikan untuk mendirikan Yayasan Panca Widya Bangsa tidak terwujud <br>\nc)    Beratnya biaya operasional sekolah yang saya tanggung selama ini tanpa partisipasi teman-teman yang lain lagi.<\/li><li>Kalaupun kepengurusan harian yayasan yang lama dibubarkan maka sebagai tanggungjawab moral pada masyarakat STM Tunas Bangsa tidak saya bubarkan, malah saya coba dirikan SMP Patriot Bangsa tahun 2005 itu, ternyata SMP PB dibuka hanya dapat siswa 12 orang dan sampai ujian nasional tinggal 7 orang lagi, itupun tantangan bagi saya.<\/li><li>Kembali ke pembubaran kepengurusan harian yang lama, disitu ada klausal yang berbunyi, sebagai rasa tanggung jawab moral pada rekan-rekan yang ikut merintis di awal berdirinya STM Tunas Bangsa, maka saya berkomitmen bahwa ke depan jika STM-TB muridnya minimal 300 orang, maka 5 % (lima persen) dari SPP yang masuk dibagi 4 orang yaitu : 1) Pak Yosep, 2) Pak Budi, 3) Pak Endang, 4) Ibu Sri Rohayati dan akan mengembalikan uang rekan-rekan yang dipakai modal awal sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan saya. Walaupun saya tidak pernah menerima secara langsung uang tersebut, karena yang menerima secara langsung uang tersebut adalah pemilik tempat (Ir. Roni P.) sesuai dengan kuitansi yang dipegang oleh rekan-rekan tersebut. Disini timbul pertanyaan, siapa Ibu Sri itu?. Ibu Sri adalah orang yang menolong keuangan ketika kondisi sekolah betul-betul sulit, yaitu tahun 2003-2004, muridnya sedikit, menghadapi ujian nasional pertama yang pasti harus menginduk, dan uji kompetensi, dll. Itulah sejarah mengapa Sri kelak berhak menerima pembagian dari SPP yang masuk, ketika siswa STM-TB nya minimal sudah 300 orang, dengan besaran 5 % dibagi 4 orang, berarti masing-masing akan menerima 1,25 % dari SPP yang masuk tiap bulan, setelah siswa STM-TB nya minimal 300 siswa. Dan pada saat buku ini ditulis, uang modal (pinjaman) dari rekan-rekan, yang sudah dikembalikan adalah milik Ibu Sri Rohayati dan Pak Budi Raharjo. Jadi tinggal uang Pak Yosep dan Pak Endang Anjar saja yang belum dikembalikan. Sekali lagi, saya bukan pemakai  uang itu secara pribadi. Uang itu diterima oleh ir. Roni, kemudian dibuat renovasi tempat di Gadobangkong sana dan meja kursi, serta alat praktik saat itu baru 1 buah mesin bor, 20 buah ragum serta 3 buah panel kelistrikan, itupun juga dari operasional sekolah yang ada, dan khusus untuk uang dari Pak endang Anjar. Itupun dipinjam Ir. Roni saat dia ditagih utang oleh orang medan Sumatera di rumah saya Jl. Tumpang Sari no. 1 Komplek Tani Mulya Indah saat itu. Jadi saya pun tidak pakai uang dari Pak Endang Anjar tersebut. <\/li><li>Jika demikan sejarahnya, maka yang terjadi adalah selama sekolah di Jl. Raya Gadobangkong No. 57 (tempat yang lama) milik Pak Kabul sekitar 2,5 tahun. Saya sudah mengeluarkan uang, baik untuk renovasi sekolah dan pembayaran ke bank Jabar Cimahi, serta uang cash karena Ir. Roni pinjam lewat Bu Ida dan uang cash ketika dia ditagih hutang orang dari Sumatera di rumah saya, dibayar dari uang Pak Endang Anjar. Jadi totalnya Rp. 65.000.000,-. Artinya sekolah di tempat yang lama Jl. Raya Gadobangkong No. 57 milik Pak Kabul tidak gratisan (membayar) per tahun sekitar Rp. 26.000.000,-.<\/li><li>Kronologis ini penting saya tulis dalam buku yang sederhana ini agar yang membaca buku ini, siapapun orangnya jelas dan tidak ragu-ragu lagi, utamanya keluarga saya dan keturunan (anak cucu saya) ke depan, haqqul yakin bahwa SMK Tunas Bangsa dan SMP Patriot Bangsa dan lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa ini betul-betul murni milik saya pribadi (milik keluarga sendiri) tidak ada orang lain lagi, baik dari segi sejarah maupun dari segi hukum yang dibuktikan dengan akta yayasan yang ada ini, serta bukti-bukti administrasi yang lainnya.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Akhirnya dalam  penulisan ini memang sengaja saya mulai dari awal karier saya hingga pendirian sekolah, agar pembaca mengetahui siapa saya dan berbuat apa saya, utamanya keluarga saya, anak cucu saya ke depan, lanjutkan pengelolaan yayasan dan semua lembaga pendidikan dalam yayasan ini. Niatkan perjuangan itu bagian dari ibadah kalian, maka harus ikhlas. Insya Allah berhasil seusai dengan apa yang diinginkan. Semoga buku ini bermanfaat untuk pencerahan semua pihak yang membaca buku ini. Semoga Allah SWT Meridhoi niat baik kita semua..Amiin Yaa Robbal \u2018Aalamiin.<\/p>\n\n\n\n<p>Tani Mulya, Jumat, 18-09-2009<br>\nPendiri Yayasan<\/p>\n\n\n\n<p>Drs. Puryanto<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KRONOLOGIS BERDIRINYA SMK TUNAS BANGSA (TB) DAN SMP PATRIOT BANGSA (PB)<br \/>\n NGAMPRAH KAB. BANDUNG BARAT<\/p>\n<p>1.\tAwal mula saya menginjakkan kaki di Jakarta untuk mengadu nasib adalah tahun 1978 di Kampung Dukuh dekat Taman Mini Indonesia Indah ikut kakak kedua saya dari 10 (sepuluh)  bersaudara yaitu Mbak Lik (Lilik Mujayanah).<br \/>\n2.\tMula-mula saya pernah daftar TNI-AU, semua tes saya lalui dengan lancar, namun panggilan pendidikan tak kunjung datang. Ternyata setelah sekian tahun kemudian, tepatnya setelah saya jadi TNI-AD di Pusdikpal, baru terucap oleh kakak ipar saya, Gusman (Choiruman) yang menyatakan bahwa saya dulu saat tes TNI-AU sebenarnya lulus, hanya karena kakak saya ditanya oleh panitia bisa atau tidak menyiapkan dana Rp. 25.000,- untuk kelanjutan saya, maka Gusman katakan saat ini tidak punya uang.<br \/>\n3.\tGagal masuk TNI-AU, saya menganggur, sambil kerja sebagai kuli bangunan di Kampung Dukuh ikut proyek membangun SMAN di dekat Halim Perdana Kusuma, melamar ke TMII, dan kerja bangunan lanjut sampai dengan ke Pondok Gede, di PT. Wisma Kusuma Indah, ke proyek perumahan Jati Waringin dan ke Pondok Ranggon (ujung aspal) membangun gedung PLN saat itu. Sambil kerja bangunan, saya daftar TNI-AD dan lulus, masuk pendidikan bulan Desember tahun 1978 dan selesai bulan April 1979 dan ditempatkan di Pusdikpal TNI-AD di Cimahi. Sambil dinas tentara saya juga sekolah di STM Pusdikpal dan tamat tahun 1983. Setelah itu melanjutkan kuliah di STKIP Pasundan Cimahi dan tamat bulan Mei 1988. Saat kuliah pada semester 5 (lima) tepatnya tanggal 7 April 1985 saya menikah dengan Yeane Thania Febriane dan tanggal 5 Februari 1986 lahir putra pertama saya Pratikto IJPP, tanggal 28 Mei 1987 lahir putri kedua saya Wisdyana SPWP, tanggal 11 Agustus 1991 lahir putri ketiga saya Trimurti WPP, dan tanggal 22 Mei 1993 lahir putri keempat saya Siti Nuraini ARP.<br \/>\n4.\tSejak awal saya jadi anggota TNI-AD hingga mengakhiri dinas tentara karena kehidupan sosial ekonomi sangat memprihatinkan. Maklum pangkat di kemiliteran saya dari pangkat yang terendah yaitu prada dan terakhir kopral satu. Dalam sejarah kelahiran anak-anak saya adalah anak pertama dan kedua ketika  saya masih jadi TNI-AD dan anak saya yang ketiga dan keempat ketika saya sudah jadi PNS guru.<br \/>\n5.\tSetelah saya mengakhiri dinas sebagai anggota TNI-AD di Pusdikpal Tahun 1990 tepatnya bulan Maret dan mutasi sebagai PNS guru, kebetulan ditempatkan di STM Pusdikpal Cimahi, saya mulai berpikir bagaimana saya harus sukses di dunia pendidikan ini.<br \/>\n6.\tSebenarnya saya memulai dinas militer ini dengan ijazah ST jurusan bangunan gedung tahun 1976 dengan predikat sebagai juara umum ketika itu di Jember Jawa Timur, namun saya tidak dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi karena faktor biaya. Mengingat saya sudah menjadi anak yatim ketika berumur 8 tahun dan saya anak dari keluarga kurang mampu setelah ibu saya sering sakit. Sementara saya 10 bersaudara dan saya anak ke-8, yang artinya kehidupan masa lalu saya betul-betul pahit.<br \/>\n7.\tDemikian dari itu saya merantau ke Jakarta tahun 1978, bermula menjadi kuli bangunan di daerah kampung Dukuh, sekitar Taman Mini Indonesia Indah, dan pada bulan Desember tahun 1978 itu saya masuk TNI-AD setelah pendidikan 4 bulan tepatnya April tahun 1979, saya ditempatkan di Pusdikpal Cimahi.<br \/>\n8.\tDi Pusdikpal cimahi inilah saya mulai meniti karier yang sebenarnya, karena selain dinas sebagai TNI-AD, saya juga sekolah di STM Pusdikpal tahun 1980-1983 mengambil jurusan Teknik Mesin. Tahun 1983-1988 saya melanjutkan kuliah di STKIP Pasundan mengambil jurusan PKN. Lalu tahun 1988 itu juga saya mulai mengajar di STM Pusdikpal Cimahi, dan dipercaya sebagai WKS Kesiswaan, oleh Kepala Sekolah saat itu Letkol Usoep sampai dengan proses mutasi tahun 1990 bulan Maret dari TNI-AD ke PNS.<br \/>\n9.\tDalam perjalanan sebagai WKS Kesiswaan dan guru PKN di STM Pusdikpal Cimahi, saya juga mengajar di SMEA Sangkuriang Cimahi. Lagi-lagi tahun 1996 saya dipercaya sebagai koordinator PSB, yangmana sebelum saya menjadi koordinator PSB, STM Pusdikpal belum pernah mendidik siswa satu angkatan melebihi 300 orang siswa. Tetapi syukur Alhamdulillah pada tahun 1996 tersebut setelah saya berjuang dengan tekun bersama-sama team PSB dapat 512 siswa hanya dalam waktu 2 minggu. Ini bisa dibuktikan dengan data di STM Pusdikpal Cimahi melalui kohor yang ada atau administrasi yang ada disana, dan saya perintis berdirinya jurusan otomotif di STM Pusdikpal Cimahi bersama Drs. Endang Hasan. Pada tahun 1991 untuk mengurus di lapangan saat itu saya dibekali transport Rp. 45.000,- setara dengan harga beras 15 kg atau harga 2 buah kaos oblong.<br \/>\n10.\tPasca saya menjalankan tugas koordinator PSB di tahun 1996 itu, berhasil sukses besar dalam PSB nya, namun berakhir pahit dalam kesejahteraannya. Hal ini terjadi karena ketidakberesan wakil Kep.Sek Kapten Puji Chaerudin dan Kep.Sek Mayor Untung Purnomo saat itu, dimana laporan pertanggungjawaban yang saya buat seharusnya ada sisa dana OPS PSB Rp. 17.000.000,-, namun yang diakui oleh Kep.Sek dan wakil Kep.Sek hanya Rp. 2.250.000,-. Mulai dari situ saya telusuri, baik pada Ketua Yayasan, saat itu Letkol Purnawirawan Sukadi, termasuk pada Komandan Pusdikpal saat itu Kolonel Heru Gunaidi juga kepada Ketua Koperasi Pusdikpal saat itu Lettu Safarudin, ternyata apa-apa yang disampaikan oleh Kep.Sek dan wakilnya tentang aliran uang pada beliau-beliau itu bohong besar. Dengan demikian, itu terjadi konflik antara saya dengan Kep.Sek dan wakilnya, maka bagi saya dari pada saya didzolimi seperti itu lebih baik saya mundur dari STM Pusdikpal Cimahi (pindah ke sekolah lain). Ini pertama saya didzolimi orang setelah saya jadi guru, dimana dia makan uang PSB tetapi tidak mengakui sehingga saya dan rekan-rekan panitia yang lain gigit jari.<br \/>\n11.\tKonflik saya dengan kep.Sek dan wakilnya menjadi heboh di STM Pusdikpal Cimahi dan mendorong saya untuk berniat mutasi dari STM Pusdikpal ke SMAN 1 Cimahi, saat itu tahun 1996-1997. Upaya saya itu pun diganjal, dengan upaya Kep.Sek STM Pusdikpal yang namanya Untung Purnomo itu memberikan masukan-masukan yang seolah-olah saya tidak baik pada Kep.Sek SMAN 1 Cimahi, saat itu dijabat oleh Ibu-ibu, padahal sebelumnya saya sudah diterima di SMAN 1 Cimahi hari Rabu. Tetapi hari Jumat setelah Kep.Sek STM Pusdikpal datang ke SMAN 1 Cimahi, lantas hari Senin berikutnya ketika saya datang ke SMAN 1 Cimahi, ditolak dengan alasan gurunya sudah banyak. Tidak cukup disitu saya didzolimi oleh Untung Purnomo dan Puji Chaerudin wakilnya, sampai ke Disdik Kab. Bandung di Baleendah saat itu Kep.Sek didampingi oleh 2 orang guru STM Pusdikpal yang kurang senang dengan saya yakni Drs. Endang Hasan, mantan guru saya sendiri dan Drs. Ali Armen, orang Padang itu memfitnah saya, bahwa seolah-olah saya telah korupsi Rp. 8.000.000,- dalam kasus PSB di STM Pusdikpal, dan lebih buruk lagi kalau bisa saya dipindahkan saja ke tempat yang jauh dari Kab. Bandung (Cimahi). Informasi ini saya dapat dari pihak Disdik Kab. Bandung saat itu.<br \/>\n12.\tFitnah itu kejam. Sepertinya mereka itu sakit hati setelah kasus PSB saat itu saya telusuri kemana aliran uang yang ada, ternyata semua bohong. Klimaks dari semua iru, saya mencoba untuk cari jalan keluar, yang penting saya bisa  pindah dari STM Pusdikpal Cimahi dengan cepat, tanpa ada kesan-kesan yang negatif bagi teman-teman dan staf TU nya. Biarlah kalau dengan Kep.Sek dan wakilnya sudah terlanjur bermusuhan.<br \/>\n13.\tSaya mulai mencari pejabat penting di Propinsi. Ketika saya bertemu Bapak Drs. Maryono jabatannya Kabid (Kepala Bidang Dikmenum) yang menangani pendidikan kejuruan STM, dll saat itu Drs. Bambang Sutrisno. Dan hasil diskusi itu saya disarankan untuk ke SMAN 1 Cipatat. Kalau mau menjadi Kep.Sek negeri, peluang sangat besar. Atau ke SMPN 2 Ngamprah, lebih pasti untuk jadi Kep.Sek, bahkan berkas-berkas sudah saya urus sampai selesai. Namun tiba-tiba saya berpikir sepertinya kurang pas jika pindah dari STM ke SMA\/SMP, lalu saya  mencari pemilik gedung SMA Dharma Bhakti yang sudah bangkrut di Cimahi saat itu.<br \/>\n14.\tUpaya saya mencari pemilik gedung SMA Dharma Bhakti berhasil, yaitu Letkol Purn. KAV Sutarjo di Jl. SMPN 1 Cimahi. Dari hasil berdiskusi berkali-kali itu, dengan tanpa berdiskusi dengan putra-putranya, saya hanya berdiskusi dengan Ibu Hj dan Pak H. Sutarjo saja. Lantas mulai buka STM Taruna Mandiri dengan bersusah payah perjuangannya mengingat baik modal dan lain-lain ini tantangan pertama saya untuk mendirikan sekolah. Saya mulai merencanakan, seragamnya bagaimana, atributnya seperti apa, semua saya desain sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk promosinya ke 63 SMPN\/S, saya sendiri tidak dengan orang lain. Nama Taruna Mandiri, mula-mulanya saya ciptakan nama STM Taruna Bangsa, tetapi usul Pak H. Sutarjo bagaimana kalau namana Taruna Mandiri saja. Saya sih setuju-setuju saja, yang penting tidak ada Dharma Bhaktinya.<br \/>\n15.\tPerjuangan saya pertama ini berjalan lancar dan bersyukur tahun pertama 1997 itu saya dapat siswa 415 siswa, untuk jurusan teknik mesin, teknik otomotif dan teknik listrik arus kuat. Mula-mula ada beberapa kelas, 3 bulan belajar duduk di lantai karena belum punya meja kursi mengingat bekas SMA Dharma Bhakti sudah hancur. Dalam operasionalnya, manajemen keuangannya tidak saya kelola sendiri tetapi langsung oleh Ibu Hj. Sutarjo dengan utusannya dari yayasan untuk belanja bahan-bahan praktek dan lain-lain, semua oleh yayasan.<br \/>\n16.\tNamun setelah masuk tahun kedua yaitu tahun 1998, anaknya Pak H. Sutarjo sudah mulai banyak turut campur antara lain seragamnya mau diganti, baik warna maupun bentuknya, adalagi bayar SPP mau lewat bank, dll dan dari hal-hal yang tidak masuk akal ini saya mulai risih (tidak nyaman). Berkali-kali saya rapat dengn segenap guru dan staf termasuk dengan yayasan, rupanya saya juga harus segera mengambil sikap untuk mundur. Pihak yayasan berusaha untuk menahan saya agar tetap di STM Taruna Mandiri, antara lain datang ke Disdik Propinsi dan ke rumah Kabid Dikmenti Drs. Bambang, termasuk memanggil saya langsung untuk bernego. Tetapi bagi saya berprinsip kalau sudah meludah, pantang untuk dijilat lagi. Itu.<br \/>\n17.\tSaya buat surat pengunduran diri bulan Mei tahun 1999 dan didukung oleh 99 % guru dan TU 54 orang saat itu. Selain itu, saya diminta membuat kronologisnya, mengapa saya mundur dari STM Taruna Mandiri, padahal saya sendiri pendirinya. Sebelum resmi saya meninggalkan STM Taruna Mandiri, saya adakan rapat akbar yang dihadiri oleh seluruh siswa, disaksikan dari petugas Kodim Cimahi dan polres Cibabat di lapangan upacara. Saat itu saya utarakan semua kronologisnya sampai akhirnya saya tetap meninggalkan STM Taruna Mandiri Cimahi tahun 1999, tepatnya saat PSB tahun 1999.<br \/>\n18.\tSeperti semula sikap saya tidak mau putus asa. Setelah bulan Mei 1999 saya mengajukan surat pengunduran diri, saya langsung bekerjasama dengan Pak Partun, pemilik SMEA Sangkuriang Cimahi, dan dari hasil diskusi dan kesepakatan, saya dipinjami kelas-kelas yang tidak dipakai, yang tadinya untuk SMK Pariwisata, tetapi tidak laku. Dari situ tepatnya saat PSB tahun 1999 saya sudah memulai penerimaan siswa baru di gedung serbaguna SMEA Sangkuriang Cimahi dapat 1 minggu, ketika itu hari Jumat, siswa STM Taruna Mandiri demo ke propinsi agar saya bisa kembali ke STM Taruna Mandiri (rujuk dengan yayasan). Maka sikap dari Disdik propinsi memfasilitasi antara saya dengan yayasan, tapi saya tetap tidak mau kembali ke STM Taruna Mandiri lagi. Di hari Jumat itu,, maka datanglah pejabat Disdik Kab. Bandung Drs. Barnas Resmana mengultimatum saya dengan kata-kata jika saya tetap buka pendaftaran di SMEA Sangkuriang maka saya dikenakan sanksi PP 30. Memang selama proses PSB 1 minggu itu hampir semua siswa STM Taruna Mandiri selalu main di tempat PSB saya, dan tidak mau lagi ke kampus STM Taruna Mandiri. Selain itu upaya pihak-pihak STM Taruna Mandiri untuk mengganjal saya buka sekolah di Jl. Sangkuriang itu sangat jelas dengan menggunakan kekuatan materi dan memanfaatkan pejabat Disdik Kab. Bandung saat itu Drs. Barnas Resmana dan kroni-kroninya untuk menekan Pak Partun agar membatalkan kerjasamanya dengan saya. Hal itu terbukti setelah 1 minggu PSB berjalan dengan tiba-tiba Pak Partun membatalkan kesepakatan kerjasama dengan saya dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Pokoknya saya tidak boleh lagi menerima siswa baru di gedung serbaguna SMEA Sangkuriang, saya harus pindah kemana saja.<br \/>\n19.\tHal ini saya terima bagaikan petir di siang bolong. Betapa malunya saya dengan orangtua calon siswa yang sudah daftar, dll. Padahal semua perizinan sudah saya tempuh dan sah, tinggal tanda tangan Drs. Barnas Resmana itu. Tidak mungkin beliau mau tanda tangan apalagi ybs sudah menerima sesuatu dari pihak STM Taruna Mandiri. Indikasinya kuat. Insya Allah benar bahwa pejabat Disdik Kab. Bandung saat itu terima suap dari STM Taruna Mandiri, dan saya yakin jika disumpah, ybs pasti tidak mau. Peristiwa ini saya catat sebagai pendzoliman saya kedua setelah jadi guru.<br \/>\n20.\tDari kegagalan ini saya mencoba cari jalan keluar lagi, baik posisi saya sebagai PNS harus kemana dan saya harus berbuat apa. Sementara PSB tahun 1999 batal siswanya. Saya kasihkan pada STM Tut Wuri Cimahi, dan saya jadi guru DPK di STM Pusdikhubad Cimahi, sambil cari jalan keluar bagaimana melanjutkan cita-cita merintis sekolah yang sudah vakum itu.<br \/>\n21.\tDari informasi Pak Endang Anjar, S.Pd, saya dihubungkan dengan Pak Drs. Undang Junaedi, Kepsek SMK 6 Kota Bandung di Cibiru sana tahun 1999. Dari hasil diskusi itu saya disarankan untuk mencari lokasi yang luasnya 3.000 m2 untuk berdirinya suatu sekolah dan diberi waktu sampai dengan Desember tahun 1999. Saya coba hubungi beberapa rekan-rekan guru yang pernah mengajar di STM Taruna Mandiri untuk bergabung (patungan beli tanah) 3.000 m2, semua yang saya hubungi tidak punya uang, sedangkan saya memiliki 1 buah mobil jip feroza tahun \u201894 dan mobil jemput sekolah, 1 rumah di cangkorah serta semua perhiasan keluarga saya jual saat itu, baru dapat dibelikan tanah 1.120 m2 di Jl. Hj.Gofur No. 162<br \/>\n22.\tPada bulan Desember tahun 1999 itu saya sampaikan pada Pak Drs. Undang Junaedi, bahwa saya tidak bisa menyiapkan tanah 3.000 m2 . Kesimpulannya, rencana kerjasama batal dengan Pak Drs. Undang Junaedi tersebut. Dari situ saya vakum sebentar untuk introspeksi diri, saya harus bagaimana lagi. Setelah berhenti sejenak, saya bangkit lagi mencari lokasi sekolah, mulai dari pusdikint, Pusdikang, gereja di Jl. Gatsu Cimahi, gedung tua di dekat makam padasuka, bekas pabrik di gadobangkong, dll. Semuanya belum berhasil, dan suatu ketika Pak Endang Anjar, Pak Hamzah, Pak Dadang mempertemukan saya dengan Pak Ir. Roni Purwoko menantu Pak Kabul Karyana Pemilik bekas pabrik pakan ternak di dekat pom bensin Gadobangkong. Dari hasil diskusi-diskusi itu akhirnya SMK Tunas Bangsa dirintis di tempat ini, dan ternyata yang namanya Pak Kabul Karyono itu kakaknya Mas Baharudin (kakak ipar saya sendiri).<br \/>\n23.\tSetelah tempat sudah ada, saya laporkan ke Disdik Kab. Bandung. Dari Disdik tersebut dicek setelah itu disarankan nama sekolahnya jangan STM Taruna Bangsa, tapi STM Tunas Bangsa saja, &#8230; Pak Undang Junaedi yang pernah mau kerjasama dengan saya di tahun 1999 juga mendirikan STM Taruna Bangsa di Katapang Kab. Bandung&#8230;.berkas-berkas saya di Pak Undang Junaedi ada, mulai dari pengurusan izin, dll. Apakah itu yang digunakan apa bukan, hanya Allah yang tahu.<br \/>\n24.\tUntuk memulai operasi sekolah ini tahun 2001, saya tidak sendirian, tetapi mencoba untuk membentuk kepengurusan harian yayasan dengan SK Ketua Yayasan (istri saya sendiri) dengan SK tersebut. Ada 6 orang terlibat didalamnya yaitu :<br \/>\na)\tIr. Roni Purwoko<br \/>\nb)\tUmi<br \/>\nc)\tDrs. Puryanto<br \/>\nd)\tDrs. Yosep H.<br \/>\ne)\tDrs. Budi Raharjo<br \/>\nf)\tEndang Anjar, S.Pd<br \/>\nDan ada lagi Pak Hamzah + Dadang sebagai penghubung<br \/>\n25.\tDari sekian orang, 4 orang, iuran untuk membuat meja kursi dan &#8230;kelas-kelas, dll. Itu bisa dilihat pada pendirian sekolah berapa&#8230;. dan untuk apa, cukup jelas.<br \/>\n26.\tTahun pertama 2001 PSB dapat siswa 44 orang, tentu dalam operasionalnya sangat berat sekali sehingga untuk menutupinya, ya gaji saya sebagai PNS lah yang dapat diandalkan dan untuk rekan-rekan yang lain 3 memang tidak mau tau, dan memang kondisinya yang tidak memungkinkan untuk membantu lagi operasionalnya, walaupun sering dirapatkan, saya pun memaklumi kondisi ini. Di tahun kedua pun dalam PSB tidak jauh berbeda dapat 46 siswa. Kondisi pihak yang punya tempat merasa sekolah tidak dapat memberikan kesejahteraan. Jangankan kesejahteraan untuk para pengurus harian yayasan, untuk operasional, honor guru dan staf saja masih repot.<br \/>\n27.\tDi tahun kedua, pihak pemilik tempat, Ir. Roni mengajak teman-teman berinvest untuk memajukan bisnis kulit coklat dengan pembagian keuntungan yang dijanjikan dengan baik, namun rekan-rekan tidak bisa. Memang pada kesepakatan awal tempat tersebut hanya untuk sekolah, bukan untuk bisnis kulit coklat, namun kenyataannya, tempat tersebut ya untuk sekolah ya untuk numpuk dan ngoplos bubuk kulit coklat juga, sehingga proses belajar sangat-sangat terganggu sekali, sangat tidak layak lagi. Walaupun demikian karena tidak ada pilihan lain, dan saya takut diusir mendadak sekolahnya, maka saya tawarkan SK saya dapat dipinjam sebagai jaminan ke bank untuk menambah modal bisnisnya pemilik tempat, karena SK PNS saya masih di BRI, Dayeuh Kolot, maka Ir. Roni nebus dulu Rp. 4.000.000,-, baru dianggunkan lagi ke bank Jabar Cimahi untuk kredit Rp. 25.000.000,- dengan masa angsuran 60 x Rp. 730.000,- tiap bulannya. Celakanya Ir. Roni hanya dapat mengangsur 9 bulan (9 kali dari 60 kali perjanjian dengan bank). Selebihnya saya harus menelan pil pahit selama 51 bulan ( 51 kali) gaji PNS saya dipotong oleh bank (Rp. 730.000,-\/bulan), sehingga kondisi rumah tangga saya sangat terganggu sekali. Untuk operasional sekali saja sudah berat, ditambah lagi Ir. Roni sudah tidak lagi bertanggung jawab atas cicilan ke bank Jabar Cimahi. Belum lagi uang PSB tahun ketiga (tahun 2003) melalui Ibu Ida dipinjam juga Rp. 4.000.000,-. Semakin rumit urusannya, ditambah lagi Pak Kabul sering minta agar PBB nya dibayar oleh sekolah, yang nominalnya saat itu Rp. 12.000.000 an. Semakin rumit urusannya.<br \/>\n28.\tPada tahun 2003 itu Pak kabul akan menjual tempat tersebut dan bicara dengan saya langsung bagaimana baiknya. Karena tempat tersebut akan dijual, sedang sekolah masih berlangsung, itupun semakin rumit lagi. Semua itu saya pikul sendiri, siapa lagi yang mau menolong, sekolah dalam keadaan sulit. Rekan-rekan yang lainpun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semuanya bagaimana saya.<br \/>\n29.\tDalam keadaan yang demikian saya minta bantuan pada Pak Drs. Bambang Sutrisno untuk dibantu RKB dari Propinsi. Jabatan Pak Bambang ini memang strategis. Semuanya saya ceritakan apa adanya. Pada akhirnya saya dapat bantuan RKB 1 ruang dengan nilai Rp. 40.000.000,-. Lantas uang tersebut saya manfaatkan untuk dibangun di tanah saya pribadi tersebut seluas 1.120 m2 seperti yang sudah saya jelaskan di depan dari mana saya beli tanah itu dananya, dll. Dalam proses pembangunan tersebut, tidak mungkin uang Rp. 40.000.000,- itu jadi 2 atau 3 ruang kelas. Maka dari penjualan rumah saya di Pakusarakan hasil dari&#8230;. (PNS dan menjual 1 buah rumah kecil di Pakusarakan menghasilkan Rp. 35.000.000,-, dapat saya bangunkan 3 ruang kelas dan 1 ruang kantor, walaupun belum sempurna).<br \/>\n30.\tTepatnya bulan Oktober tahun 2003 kondisi di tempat yang lama sudha kritis, berbagai masalah. Maka sekolah saya relokasi ke Jl. Hj.Gofur No. 162 (tempat yang baru itu). Karena tempat ini masih dikitari sawah dan menjorok kedalam, maka jumlah siswa pun menyusut drastis, sampai-sampai untuk 2 (dua) jurusan hanya 26 siswa saja. Berarti untuk 1 jurusan hanya 13 orang saja. Kondisi ini pun saya sampaikan pada rekan-rekan yang lain, tapi kembali lagi saya memakluminya. Mungkin saat itu rekan-rekan pesimis sekolah akan maju. Belum lagi tahun ketiga itu menghadapi ujian akhir, ya UN ya Uji Kompetensi, dll. Disini saya benar-benar diuji ketabahan oleh Allah SWT.<br \/>\n31.\tDalam kondisi yang sulit seperti itu, saya kumpulkan rekan-rekan yang lain : Pak Drs. Budi R., Pak Drs. Yosep H. Dan Pak Endang A., S.Pd bagaimana jalan keluarnya. Lagi-lagi mereka yang pasrah. Lantas saya tawarkan bahwa pengelolaan STM Tunas Bangsa akan saya serahkan pada pengelola yang baru jika sudah ada yayasannya dan rekan-rekan saya sarankan untuk membentuk yayasan yang baru, bahkan nama yayasan pun sudah tercipta yaitu Yayasan Panca Widya Bangsa. Namun setelah saya beri waktu 1 tahun, yayasan itupun tidak kunjung berdiri, padahal spanduk dan brosur untuk PSB tahun itu sudah tertulis nama yayasan yang baru. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, maka kepengurusan harian yayasan pendidikan yang pernah di SK kan waktu awal beroperasinya sekolah, dibubarkan dengan SK Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa dengan alasan :<br \/>\na)\tKepengurusan harian yayasan sudah tidak mampu lagi memperjuangkan\/ atau melanjutkan operasional sekolah dengan baik<br \/>\nb)\tWaktu 1 tahun yang diberikan untuk mendirikan Yayasan Panca Widya Bangsa tidak terwujud<br \/>\nc)\tBeratnya biaya operasional sekolah yang saya tanggung selama ini tanpa partisipasi teman-teman yang lain lagi.<br \/>\n32.\t Kalaupun kepengurusan harian yayasan yang lama dibubarkan maka sebagai tanggungjawab moral pada masyarakat STM Tunas Bangsa tidak saya bubarkan, malah saya coba dirikan SMP Patriot Bangsa tahun 2005 itu, ternyata SMP PB dibuka hanya dapat siswa 12 orang dan sampai ujian nasional tinggal 7 orang lagi, itupun tantangan bagi saya.<br \/>\n33.\tKembali ke pembubaran kepengurusan harian yang lama, disitu ada klausal yang berbunyi, sebagai rasa tanggung jawab moral pada rekan-rekan yang ikut merintis di awal berdirinya STM Tunas Bangsa, maka saya berkomitmen bahwa ke depan jika STM-TB muridnya minimal 300 orang, maka 5 % (lima persen) dari SPP yang masuk dibagi 4 orang yaitu : 1) Pak Yosep, 2) Pak Budi, 3) Pak Endang, 4) Ibu Sri Rohayati dan akan mengembalikan uang rekan-rekan yang dipakai modal awal sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan saya. Walaupun saya tidak pernah menerima secara langsung uang tersebut, karena yang menerima secara langsung uang tersebut adalah pemilik tempat (Ir. Roni P.) sesuai dengan kuitansi yang dipegang oleh rekan-rekan tersebut. Disini timbul pertanyaan, siapa Ibu Sri itu?. Ibu Sri adalah orang yang menolong keuangan ketika kondisi sekolah betul-betul sulit, yaitu tahun 2003-2004, muridnya sedikit, menghadapi ujian nasional pertama yang pasti harus menginduk, dan uji kompetensi, dll. Itulah sejarah mengapa Sri kelak berhak menerima pembagian dari SPP yang masuk, ketika siswa STM-TB nya minimal sudah 300 orang, dengan besaran 5 % dibagi 4 orang, berarti masing-masing akan menerima 1,25 % dari SPP yang masuk tiap bulan, setelah siswa STM-TB nya minimal 300 siswa. Dan pada saat buku ini ditulis, uang modal (pinjaman) dari rekan-rekan, yang sudah dikembalikan adalah milik Ibu Sri Rohayati dan Pak Budi Raharjo. Jadi tinggal uang Pak Yosep dan Pak Endang Anjar saja yang belum dikembalikan. Sekali lagi, saya bukan pemakai  uang itu secara pribadi. Uang itu diterima oleh ir. Roni, kemudian dibuat renovasi tempat di Gadobangkong sana dan meja kursi, serta alat praktik saat itu baru 1 buah mesin bor, 20 buah ragum serta 3 buah panel kelistrikan, itupun juga dari operasional sekolah yang ada, dan khusus untuk uang dari Pak endang Anjar. Itupun dipinjam Ir. Roni saat dia ditagih utang oleh orang medan Sumatera di rumah saya Jl. Tumpang Sari no. 1 Komplek Tani Mulya Indah saat itu. Jadi saya pun tidak pakai uang dari Pak Endang Anjar tersebut.<br \/>\n34.\tJika demikan sejarahnya, maka yang terjadi adalah selama sekolah di Jl. Raya Gadobangkong No. 57 (tempat yang lama) milik Pak Kabul sekitar 2,5 tahun. Saya sudah mengeluarkan uang, baik untuk renovasi sekolah dan pembayaran ke bank Jabar Cimahi, serta uang cash karena Ir. Roni pinjam lewat Bu Ida dan uang cash ketika dia ditagih hutang orang dari Sumatera di rumah saya, dibayar dari uang Pak Endang Anjar. Jadi totalnya Rp. 65.000.000,-. Artinya sekolah di tempat yang lama Jl. Raya Gadobangkong No. 57 milik Pak Kabul tidak gratisan (membayar) per tahun sekitar Rp. 26.000.000,-.<br \/>\n35.\tKronologis ini penting saya tulis dalam buku yang sederhana ini agar yang membaca buku ini, siapapun orangnya jelas dan tidak ragu-ragu lagi, utamanya keluarga saya dan keturunan (anak cucu saya) ke depan, haqqul yakin bahwa SMK Tunas Bangsa dan SMP Patriot Bangsa dan lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa ini betul-betul murni milik saya pribadi (milik keluarga sendiri) tidak ada orang lain lagi, baik dari segi sejarah maupun dari segi hukum yang dibuktikan dengan akta yayasan yang ada ini, serta bukti-bukti administrasi yang lainnya.<\/p>\n<p>Akhirnya dalam  penulisan ini memang sengaja saya mulai dari awal karier saya hingga pendirian sekolah, agar pembaca mengetahui siapa saya dan berbuat apa saya, utamanya keluarga saya, anak cucu saya ke depan, lanjutkan pengelolaan yayasan dan semua lembaga pendidikan dalam yayasan ini. Niatkan perjuangan itu bagian dari ibadah kalian, maka harus ikhlas. Insya Allah berhasil seusai dengan apa yang diinginkan. Semoga buku ini bermanfaat untuk pencerahan semua pihak yang membaca buku ini. Semoga Allah SWT Meridhoi niat baik kita semua..Amiin Yaa Robbal \u2018Aalamiin.<\/p>\n<p>Tani Mulya, Jumat, 18-09-2009<br \/>\nPendiri Yayasan<\/p>\n<p>Drs. Puryanto<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":91,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/120"}],"collection":[{"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":224,"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/120\/revisions\/224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smktunasbangsa.sch.id\/webUtama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}